Info Kapal

Ridwan Garcia blog

kELALAIAN DALAM BEKERJA BISA MERENGGUT NYAWA

Baru saja aku menerima berita dari kawan ku yg bekerja di free town Africa sierra lione bahwa salah satu Chief officernya mengalami kecelakaan yg berakibat merenggut nya si korban. Kebetulan yang berkerja di sana para perwiranya adalah anak anak dari Indonesia yg notabene adalah kawan kawanku juga.

Accident

Dari kejadian di atas tiba tiba ada rasa ingin menulis di blogku yg memang sudah lama juga aku tak update karena kesibukan yg menyita.., aku hanya ingin sedikit berdebat sama diriku sendiri mengapa hal itu bisa terjadi.. walaupun aku tak tahu jelas apa permasalahan dan penyebanya sehingga korban bisa meninggal dunia.

Baca lebih lanjut

Desember 8, 2012 Posted by | ISM CODE | 3 Komentar

STCW-F 1995 Mulai Diberlakukan Tanggal 29 September 2012

Posted by Capt. Hadi Supriyono, MM, M.Mar

Konvensi Internasional tentang Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Dinas-jaga untuk Personil Kapal Perikanan, 1995 (STCW-F 1995)mulai berlaku pada tanggal 29 September 2012.

Konvensi STCW-F menetapkanpersyaratan minimum pelatihan dan sertifikasi untuk awak kapal penangkap ikan yang berlayar di laut lepas dengan panjang 24 meter atau lebih. Konvensi ini terdiri dari 15 pasal (Article) dan lampiran yang berisiperaturan-peraturan teknis.  Konvensi STCW-F telah diratifikasi oleh 15 negara: Kanada, Denmark, Islandia,Kiribati, Latvia, Mauritania, Maroko, Namibia, Norwegia, Palau, Federasi Rusia, SierraLeone, Spanyol, Republik Arab Suriah dan Ukraina, dan juga oleh Faroes, Denmark.
Pelaut kapal perikanan Indonesia
Baca lebih lanjut

November 3, 2012 Posted by | stcw | | 3 Komentar

Proyek Marine Electronic Highway (MEH) di Selat Malaka dan Selat Singapura (suatu pendekatan inofatif manajemen perairan sempit dan padat)

Posted by Capt. Hadi Supriyono, MM, M.Mar
Pendahuluan
Pada tanggal 3 Agustus 2012 yang lalu, Sekjen IMO Mr. Koji Sekimizu secara simbolis telah menyerahkan Sistim IT untuk proyek Marine Electronic Highway (MEH) kepada pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Dirjen Perhubungan Laut bapak Leon Muhammad. Serah terima tersebut berlangsung di kantor MEH (Project Management Office) di Batam. Adalah merupakan kebanggaan bahwa pada proyek MEH ini IMO memberi kepaercayaan kepada pemerintah Indonesia. Namun dengan menerima sistim IT tersebut berarti pemerintah Indonesia mempunyai tanggung jawab untuk mengoperasikan, merawat, dan memperbaiki apabila ada kerusakan dalam pengoperasiannya. Tentunya memerlukan financial-budgeting yang tidak sedikit untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut. Pemilihan tempat dan lokasi kantor untuk proyek MEH ini di Batam tentunya telah merupakan hasil kesepakatan antara 3 negara pesisir (littoral state) dimana Selat Malaka dan Selat Singapura berada yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura. Ini adalah bentuk kepedulian Negara Indonesia terhadap upaya peningkatan keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritime di Selat Malaka dan Singapura. Dan ini adalah merupakan kebanggaan serta kehormatan bagi pemerintah Indonesia yang dipercaya oleh IMO untuk mengoperasikan sistim IT untuk proyek MEH ini.
  Baca lebih lanjut

September 20, 2012 Posted by | hukum international | 1 Komentar

Electronic Chart Display and Information System (ECDIS)

Posted by Capt. Hadi Supriyono, MM, M.Mar
Pendahuluan
Pada tanggal 13 September 2012,International Maritime Organization(IMO) memberitahukan melalui situsnya www.imo.org, tentang pemberitahuan yang disampaikan oleh para pembuat (produsen) Electronic Chart Display and Information System (ECDIS) bahwa terdapat versi yang terbaru tentang perangkat lunak ECDIS untuk mengoperasikan peralatan. Langkah ini bertujuan untuk menghilangkan kesulitan2 yang terjadi pada penggunaan perangkat lunak dengan menggunakan versi lama, yang selama ini dialami dalam pengoperasian ECDIS di atas kapal.
Informasi tentang perangkat lunak versi terbaru ini juga akan di beritahukan melalui situsInternational Hydrographic Office (IHO), termasuk link terkait, agar kapal2 dapat mengunduhnya. Para produsen ECDIS juga berjanji bersedia bekerja sama dengan semua pemerintah negara pihak SOLAS untuk membahas dan menyelesaikan masalah ini hingga jangka waktu yang panjang.

September 20, 2012 Posted by | GMSS | Tinggalkan komentar

Selayang pandang LRIT

Posted by Capt. Hadi Supriyono, MM, M.Mar
Komite Keselamatan Maritim IMO (Maritime Safety Committee – MSC), pada sidangnya yang ke 81 bulan Mei 2006 telah melakukan penerimaan terhadap peraturan baru tentang Long Range Identification and Tracking of Ships, yang kemudian dikenal dengan LRIT, termasuk standard kinerja dan persyaratan rinci tentang sistim yang digunakan.
Sekilas tentang sistim LRIT
Sistim LRIT terdiri dari:
1.     Pesawat pemancar di kapal,
2.     Penyedia layanan komunikasi (Communication Service Provider – CSP),
3.     Penyedia layanan penggunaan (Application Service Provider – ASP),
4.     Pusat data LRIT (LRIT Data Centre – DC), termasuk sistim monitor kapal-kapal (Vessel Monitoring System – VMS),
5.     rencana distribusi data LRIT (LRIT Data Distribution Plan – DDP) dan
6.     Pertukaran Data Internasional (International LRIT Data Exchange – IDE).
  Baca lebih lanjut

September 1, 2012 Posted by | GMSS | , , , , , | 1 Komentar

Rekomendasi IMO tentang upaya meningkatkan factor keselamatan kapal penumpang dan amandemen SOLAS Regulation III/17-1

Posted by Capt. Hadi Supriyono, MM, M.Mar

Sejak musibah tenggelamnya kapal Senopati Nusantara danLevina II pada awal tahun 2007 yang lalu, pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya peningkatan pengawasan terhadap pengoperasian kapal-kapal penumpang, khususnya yang dioperasikan secara domestic.

Pada akhir tahun 2007, bekerja sama dengan secretariat IMO melalui ITCP (Internasional Technical Cooperation Program), Indonesia telah melakukan seminar-semianr nasional dan internasional dalam upaya memecahkan masalah-masalah yang timbul serta kendala-kendala yang ada dalam pengoperasian kapal-kapal penumpang secara selamat dan aman.
  Baca lebih lanjut

Agustus 1, 2012 Posted by | hukum international | 2 Komentar

Selayang pandang AIS

Capt. Hadi Supriyono, MM, M.Mar

Pembuka

AIS adalah singkatan dari Automatic Identification System yaitu sistim yang dapat memberikan informasi secara otomatis tentang data-data suatu kapal kepada kapal lain dan pemangku jabatan di suatu Negara pantai.
Prinsip kerja AIS:
AIS bekerja dengan menggunakan frequensi sangat tinggi (Very High Frequency – VHF), yaitu antara 156 – 162 MHz. Sistim yang ada secara umum ada 2 jenis, yaitu AIS Class A dan AIS Class B. Namun AIS yang sesuai dengan standard IMO adalah AIS Class A (IMO Resolution A.917(22)), yaitu AIS yg menggunakan skema akses komunikasinya menggunakan sistim SO-TDMA (Self-organized Time Division Multiple Access) sedangkan AIS Class B menggunakan sistim CS-TDMA (Carrier-sense Time Division Multiple Access). Daya pancaran AIS Class A sampai dengan 12,5 watt sedangkan AIS Class B hanya 2 watt, dan fasilitas lainnya yang dimiliki oleh AIS Class A lebih lengkap dbanding dengan AIS Class B. Perbedaan secara singkat antara kedua jenis AIS tersebut adalah:
Baca lebih lanjut

Juli 24, 2012 Posted by | arsip lama | Tinggalkan komentar

Ship Safety Orientation

The Ship Security Alert System (SSAS) is part of the ISPS code dan merupakan sistem yang memberikan kontribusi terhadap upaya dari pada (IMO) Maritim Internasional Organization,  untuk memperkuat keamanan juga melindungi dunia  maritim dan menekan aksi terorisme dan pembajakan terhadap kapal kapal di tengah   laut.

untuk menangkal segala bentuk kejahatan kapal di tengah laut IMO telah membuat system pelaporan darurat bahaya bagi kapal kapal, system ini adalah joint project antara Cospas-Sarsat dan IMO. untuk mencega kasus-kasus pembajakan yg sering di lakukan para perompak di laut atau upaya terorisme menyerang kapal kapal yg sdg berlayar, jika kapal  mengalami hal hal yg sangat membahayakan crew dan kapal maka  SSAS beacon can be activated, dan pasukan penegak hukum atau militer yang terdekat dari lokasi kapal yg dalam bahaya dapat dgn tepat  dikirim dgn segera mungkin,  beacon SSAS dapat  beroperasi malalui signal yg di pancarkan dari kapal yg dalam bahaya dengan prinsip yang mirip dengan the aircraft transponder emergency code 7700. Ketika peringatan SSAS itu di pancarkan maka signal itu akan di tangkap oleh stasiun stasiun pemancar lainnya melaui via satelit cospas  sarsat.  Pusat-pusat Koordinasi Rescue “the Rescue Coordination Centres (RCCs) or SAR Points of Contact (SPOCs)  ini akan memancarkan signal ke seluruh negara anggota atau negara yg mempunyai beacon transmisi dan berita bahaya ini akan di terima oleh  otoritas keselamatan yg di kirim secara rahasia. dgn ada pemberitahuan dari kapal maka dapat di lakukan pengirimkan pasukan yang tepat untuk menangani ancaman teroris atau bajak laut.

Baca lebih lanjut

Juni 1, 2012 Posted by | ISPS | , | 1 Komentar

Sekilas tentang IMSO

Posted by Capt. Hadi Supriyono, MM, M.Mar
INTERNATIONAL MOBILE SATELLITE ORGANIZATION
(IMSO)

  1. 1.     International Mobile Satellite Organization (IMSO), adalah organisasi Internasional antar-pemerintah yang dibentuk untuk mengawasi layanan-layanan komunikasi melalui satelit yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan publik yang disediakan oleh satelit-satelit INMARSAT. Berkantor pusat di London (U.K). Indonesia telah menjadi anggota IMSO sejak tahun 1986. Saat ini anggota IMSO ada 92 negara.
  2.    Sebelumnya, IMSO bernama INMARSAT (International Maritime Satellite Organization) yang didirikan pada tahun 1979, yang menitik-beratkan pada penyediaan layanan satelit untuk public dalam dinas maritim (komunikasi maritim). Selanjutnya, karena layanan yang diberikan tidak hanya dalam dinas maritim tetapi termasuk komunikasi untuk keselamatan penerbangan, maka dirobah namanya menjadi IMSO, tetapi masih menggunakan akronim INMARSAT.
  3. Baca lebih lanjut

Mei 8, 2012 Posted by | hukum international | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 67 pengikut lainnya.