Info Kapal

Ridwan Garcia blog

kELALAIAN DALAM BEKERJA BISA MERENGGUT NYAWA

Baru saja aku menerima berita dari kawan ku yg bekerja di free town Africa sierra lione bahwa salah satu Chief officernya mengalami kecelakaan yg berakibat merenggut nya si korban. Kebetulan yang berkerja di sana para perwiranya adalah anak anak dari Indonesia yg notabene adalah kawan kawanku juga.

Accident

Dari kejadian di atas tiba tiba ada rasa ingin menulis di blogku yg memang sudah lama juga aku tak update karena kesibukan yg menyita.., aku hanya ingin sedikit berdebat sama diriku sendiri mengapa hal itu bisa terjadi.. walaupun aku tak tahu jelas apa permasalahan dan penyebanya sehingga korban bisa meninggal dunia.

Baca lebih lanjut

Desember 8, 2012 Posted by | ISM CODE | 3 Komentar

ISM CODE

Sebuah kapal feri tenggelam yang menyebabkan sedikitnya lima orang meninggal, tetapi 900 lainnya diselamatkan.Sejauh ini 63 orang hilang setelah kapal feri yang mengangkut 960 orang lebih tenggelam di dekat kota Zamboanga./philipine belum lama ini, kejadian semacam ini pun perna terjadi  pada KM Digoel.
KM Digoel adalah sebuah kapal motor barang milik perusahaan negara angkutan sungai danau dan penyeberangan yang tenggelam pada 8 Juli 2005 pada sekitar pukul 23.15 WIT di perairan Arafura. Kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari Merauke ke Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel.


Secara resmi kapal seberat 150 ton tersebut disebut membawa 50 penumpang, namun menurut saksi mata jumlah penumpang mencapai lebih dari 200 orang. Hingga 22 Juli 2005, hanya 16 orang yang telah berhasil diselamatkan – 14 penumpang dan 2 awak kapal –, 84 orang ditemukan tewas dan 100-an penumpang belum diketahui nasibnya. Menurut Kepala Tim SAR di Merauke, sekitar 11 mil (19 km) dari Distrik Okaba, Merauke kapal dihantam ombak deras dan angin kencang hingga tenggelam di kedalaman Laut Arafura. KM Digoel ternyata terbenam di dalam lumpur sehingga tim SAR kesulitan mengubah posisinya.

kejadian seperti kasus di atas di sebabkan oleh beberapa faktor:

Faktor manusia

Faktor manusia merupakan faktor yang paling besar yang antara lain meliputi:
Kecerobohan didalam menjalankan kapal,
kekurang mampuan awak kapal dalam menguasai berbagai permasalahan yang mungkin timbul dalam operasional kapal, secara sadar memuat kapal secara berlebihan

Faktor teknis
Faktor teknis biasanya terkait dengan kekurang cermatan didalam desain kapal, penelantaran perawatan kapal sehingga mengakibatkan kerusakan kapal atau bagian-bagian kapal yang menyebabkan kapal mengalami kecelakaan, terbakarnya kapal seperti yang dialami Kapal Tampomas diperairan Masalembo, Kapal Livina.

Faktor alam
Faktur cuaca buruk merupakan permasalahan yang seringkali dianggap sebagai penyebab utama dalam kecelakaan laut. Permasalahan yang biasanya dialami adalah badai, gelombang yang tinggi yang dipengaruhi oleh musim/badai, arus yang besar, kabut yang mengakibatkan jarak pandang yang terbatas.

Untuk mencapai keselahatan yg tinggi di perlukan keseriusan dari semua pihak pihak yg terlibat di dunia pelayaran, terlebih khusus para navigator kapal yg harus berani menolak dari keinginan pribadi atau lain pihak demi tercapainya keselamatan yg tinnggi hingga layak laut sebelum tali tali kapal di casting off.

Keselamatan Pelayaran didefinisikan sebagai suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang menyangkut angkutan di perairan dan kepelabuhanan. Terdapat banyak penyebab kecelakaan kapal laut; karena tidak diindahkannya keharusan tiap muatan yang berada di atas kapal untuk diikat (lashing), hingga pada persoalan penempatan barang yang tidak memperhitungkan titik berat kapal dan gaya lengan stabil, kunci dari ini adalah titik GM yg positip yg akan dapat mengembalikan kapal ke kedudukan yg semula.

Aturan international keselamatan pelayaran
Untuk mengendalikan keselamatan pelayaran secara internasional diatur dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1. International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS), 1974, sebagaimana telah disempurnakan: Aturan internasional ini menyangkut ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

  • a. Konstruksi (struktur, stabilitas, permesinan dan instalasi listrik, perlindungan api, detoktor api dan  pemadam kebakaran);
  • b. Komunikasi radio, keselamatan navigasi
  • c. Perangkat penolong, seperti pelampung, keselamatan navigasi.
  • d. Penerapan ketentuan-ketentuan untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran termasuk didalamnya penerapan of the International Safety Management (ISM) Code dan International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code).

2. International Convention on Standards of Training, Certification dan Watchkeeping for Seafarers, tahun 1978 dan terakhir dirubah pada tahun 1995.
3. International Convention on Maritime Search and Rescue, 1979.
4. International Aeronautical and Maritime Search and Rescue Manual (IAMSAR) dalam 3 jilid

Aturan di atar seharusnya menjadi pedoman tetapi kita selalu melalaikannya, masi ingat kejadian terbesar sepanjang sejara kita tahun 1981 yaitu Tampomas 2, tepatnya tgl 27 Januari – Musibah KMP Tampomas II. Kejadian yang dimulai terbakarnya kapal tanggal 25, merupakan tragedi terbesar saat itu dengan korban diperkirakan 431 orang tewas
Dari segala peristiwa itulah badan organisasi dunia IMO terus menerus meratifikasi dan memperbaharui semua aturan pelayaran, ISM code di mulai dan di wajibkan untuk semua orang yg terlibat dalam dunia pelayaran.
International Safety Management Code adalah standar internasional manajemen keselamatan dalam pengoperasian kapal serta upaya pencegahan/pengendalian pencemaran lingkungan.

Sesuai dengan kesadaran terhadap pentingnya faktor manusia dan perlunya peningkatan manajemen operasional kapal dalam mencegah terjadinya kecelakaan kapal, manusia, muatan barang/cargo dan harta benda serta mencegah terjadinya pencemaran lingkungan laut, maka IMO mengeluarkan peraturan tentang manajemen keselamatan kapal & perlindungan lingkungan laut yang dikenal dengan Peraturan International Safety Management (ISM Code) yang juga dikonsolidasikan dalam SOLAS Convention.

Pada dasarnya ISM Code mengatur adanya manajemen terhadap keselamatan (safety) baik Perusahaan Pelayaran maupun kapal termasuk SDM yang menanganinya.

Perusahaan pelayaran
Untuk Perusahaan Pelayaran, harus ditunjuk seorang setingkat Manajer yang disebut DPA (Designated Person Ashore/Orang yang ditunjuk di darat). Ia bertanggung jawab dan melakukan pengawasan terhadap keselamatan (safety) dari Perusahaan Pelayaran tersebut. Manajer penanggung jawab ini harus bertanggung jawab dan mempunyai akses langsung kepada Pimpinan tertinggi dari Perusahaan Pelayaran tersebut.
Kapal
Untuk kapal, disetiap kapal harus mempunyai system dan prosedur penanggulangan dan pencegahan terhadap peristiwa gangguan terhadap keselamatan (safety) dan dalam pelaksanaannya harus menunjuk seorang Perwira yang bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan terhadap keselamatan (safety) kapal dan pencegahan pencemaran dari kapal.

Itulah pertanggungan jawab dari ISM code, setiap perwira kapal harus melaksanakan aturan yg di standarkan oleh safety management system.

Desember 15, 2010 Posted by | ISM CODE | | Tinggalkan komentar

ISM code wajib bagi para pelaut

Manajemen keselamatan

Pengembangan  ISM Code
Dampak dari ISM Code dan efektivitasnya
Mempelajari Lebih lanjut tentang ISM Code

Pengembangan ISM code


Sejumlah kecelakaan kecelakan yang sangat serius, yang terjadi sepanjang akhir tahun 1980-an, jelas-jelas disebabkan oleh kesalahan dari manusianya , kesalahan ini di sebabkan oleh sistem manajemen yg slalah di terapkan, inilah sebagai indikator faktor penyebabnya.
Lord Justice Sheen  dalam penyelidikannya terhadap hilangnya Herald of Free Enterprise yg terkenal itu, menjelaskan kegagalan tersebut disebabkan oleh sistem manajemen yg salah sebagai “penyakit kecerobohan”.
Pada Assembly ke 16 pada bulan Oktober tahun1989, IMO mengadopsi resolusi A.647 (16), tentang petunjuk petunjunk sistem Manajemen dalam mengatur keamanan, Pengoperasian untuk Kapal kapal dalam Pencegahan Pencemaran di laut.

Tujuan dari pada Panduan ini adalah untuk memberikan penjelasan penjelasan kepada mereka yg ikut andil harus bertanggung jawab dalam pengoperasian  kapal kapal di laut dengan mengunakan kerangka pembangunan yang tepat, di dalam pelaksanaannya untuk menilai keselamatan dan pencegahan polusi sesuai dengan langkah langkah menejemenn yg benar.
Tujuannya dari pada itu adalah untuk memastikan keamanan dan untuk mencegah kecelakaan atau hilangnya nyawa manusia, dan juga untuk menghindari kerusakan terhadap lingkungan, khususnya lingkungan laut, dan harta benda lainya.
Panduan ini juga didasarkan pada prinsip-prinsip umum yg bertujuan untuk mempromosikan suara evolusi  terhadap tidakanan yg di ambil  untuk pengaturan/manajemen di dalam mengoperasikan industri kapal secara keseluruhan.

Petunjuk ini juga mengakui betapa pentingnya instrumen internasional yang ada sebagai sarana pendukung yg terpenting dalam mencegah jatuhnya korban jiwa, polusi di laut termasuk bagian yg terpenting dari system manajemen tsb, pentingnya keselamatan dan kebijakan terhadap lingkungan di sekitarnya.

Setelah beberapa pengalaman dalam pelaksanan menggunakan petunjuk ini, pada tahun 1993 IMO mengadopsi Manajemen Internasional Kode untuk keamanan Pengoperasian Kapal kapal dalam Pencegahan dan Pencemaran di laut (dalam ISM Code).

Pada tahun 1998, ISM Code menjadi wajib.
Kode atau aturan  ini menetapkan tujuan dari pengelolahan keamanan memerlukan sistem manajemen keselamatan (SMS) yang akan dibuat oleh “Perseroan”, yang didefinisikan sebagai pemilik kapal atau setiap orang, seperti manajer atau Bareboat menyewa, ikut serta bertanggung jawab terhadap pengoperasian kapal pakal di laut.

Perusahaan diwajibkan untuk membangun atau membuat dan menerapkan kebijakan agar tercapai maksud dari tujuan ini. termasuk juga dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang diperlukannya serta dukungan dari staff staff pekerja di darat.
Setiap perusahaan di haruskan “untuk menunjuk salah seseorang atau beberapa orang staff di darat yang mempunyai/memiliki akses langsung ke pimpinan tertinggi dari perusahaan tersebut”.
aturan  yang diminta oleh Kode ini,  semua dokumen dokumen harus didokumentasikan dan dikumpulkan dalam sistem Manajemen Keamanan Manual, dan salinan dokumen harus di simpan diatas kapal.

jadi jelas sekali terjemahan diatas bahwa di wajibkan bagi para pelaut untuk mematuhi dan mengikuti aturan dari ISM code agar tercapainya standart sistem manejemen yg baik dan benar dalam lingkungan pelayaran.

 

September 14, 2009 Posted by | ISM CODE | | 1 Komentar