Info Kapal

Ridwan Garcia blog

Anchor Handling

Salam persahabatan buat semua pelaut. di dunia. terima kasi sudah mau mengujungi situs pribadiku. hari ini aku mau menulis tentang anchor handling. para pelaut banyak yg ingin bekerja di kapal ini, tapi pengetahuan tenang anchor handling banyak yg belum tahu bagaimana cara kerja kapal kapal di offshore. inti dari pekerjaan sebenar sama saja jika kita melakukan dgn hati yg senang hasilnya pun akan luar biasa. kembali ke pokok persaoalan. sebelum kapal kita bergerak kewajiban kita harus memastikan kapal kita laik laut. perhitungan GM dan stabilitas adalah langkah awal dari keberhasilan kerja kita. karena cuaca yg buruk dapat membahayakan kapal. jadi pastikan kapal dalam stabilitas yg baik. semua perwira kapal harus memahami panduan panduan yg standart. dan check list harus di isi dgn benar. agar bisa menekan kesalahan kesalahan sekecil mungkin.

Baca lebih lanjut

April 15, 2012 Posted by | ship handling | 40 Komentar

PEMADATAN ( STOWAGE )

Sebelum muatan dimuat maka :

  • Ruang muat harus dipersiapkan untuk menerima muatan.
  • Pengetesan, pengecekan ruang muat serta alat-alat muat bongkar muat dan perlengkapan lainnya yang berurutan dengan muat bongkar.

Persiapan ruang muat sangat bergantung dari jenis muatan yang mau dimuat, sifat muatan tersebut serta keadaan palka (bentuk, letak, ada tidaknya tiang-tiang (dsb) .

Persiapan ruang muat meliputi hal-hal :

  • Pembersihan ruang muat
  • Pemeriksaan, pengetesan (checking) ruang muat.

Pembersihan ruang muat :

  • Mengeluarkan sisa-sisa/bekas-bekas muatan yang terdahulu, demikian pula sisa-sisa/bekas-bekas terapan-terapan.
  • Menyapu (sweeping) ruang tersebut sampai bersih. Kalau perlu pakailah serbuk gergaji agar sisa-sisa muatan yang terdahulu yang melekat di atas palka, dinding-dinding bisa tersapu semuanya.
  • Terapan-terapan yang masih baik dikumpulkan disatu tempat, dan sisa-sisa kotoran dikumpulkan di atas dek. Kalau ada tongkang kotoran, dibuang ke tongkang.
  • Setelah selesai di sapu bersih, lalu dibersihkan dengan air tawar agar debu-debu sapuan turun. Dalam membersihkan ini jangan lupa sisa kotoran yang mungkin masuk ke dalam got palka agar ikut dibersihkan. Air cucian ini dihisap keluar memakai pompa got. Perhatikan saringan got jangan sampai tersumbat. Kalau perlu saringan got diangkat keluar untuk dibersihkan, dimeni lalu dicat kembali.
  • Setelah dibersihkan dengan air tawar, jalankan ventilasi palka agar palka tersebut cepat kering.
  • Andai kata ruangan tersebut berbau, maka air pencuci diberi sedikit bahan kimia untuk menghilangkan bau tersebut.
  • Jika dianggap palka tersebut masih ada hama tikus atau hama-hama lainnya, sebaiknya diadakan pembasmian hama tikus atau fumigation.
  • Kalau perlu palka tersebut dicat kembali agar kutu-kutu, lipas dll mati
  • Khusus untuk ruangan dingin: dibersihkan, geladaknya digosok, dosemprot dan dirawat dengan kapur putih. Untuk menghilangkan bau-baunya disemprot dengan air yang dicampur dengan bahan kimia. Kalau perlu pembersihannya di bawah petunjuk seorang surveyor.

Pengecekan ruang muat :

Pemeriksaan dilakukan oleh Mualim I atau kalau perlu dengan seorang surveyor.  Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:

  • Kebersihan ruang muat secara keseluruhan. Bukan saja bersih, tetapi juga harus kering.
  • Dunnage tetap harus dalam keadaan baik, jumlahnya harus cukup. Yang rusak diperbaiki atau diganti baru.
  • Drainage system (pembuangan/got-got) harus bersih. Saringan dalam keadaan baik dan tidak tersumbat oleh kotoran atau karat. Di-test dengan memasukkan air ke dalam got, lalu dipompa. Bila tidak memakai air cukup dengan menadah telapak tangan di bawah lobang hisap. Bila telapak tangan kesedot, berarti baik.
  • Penerangan palka di-chek, apakah jumlahnya cukup atau tidak. Bila ada yang padam atau rusak, agar segera dibetulkan/diganti.
  • Tangga di dalam palka terutama trap-trap dan pemegangnya diperiksa demi keselamatan ABK dan buruh.
  • Alat penemu uap panas yang ujung-ujungnya berada di dalam palka. Di-test dengan membakar majun di dalam palka. Setelah alat smoke detector dianjungan di “on” kan dianjungan akan kelihatan asap dari alat tersebut, berarti baik. Demikian pula pipa-pipa CO2 yang menuju ruang palka harus ditest kerjanya, apakah ada pipa-pipa yang bocor/tidak. Bila ada yang bocor segera dibetulkan.
  • Man holes (lobang lalu orang ke/dari tangki) di cek apakah dalam keadaan baik terutama baut-baut dan packingnya.
  • Lobang ventilasi/peranginan di-check apakah tidak tersumbat oleh kotoran-kotoran. Jalankan ventilasi palka untuk mengetahui apakah salurannya tersumbat atau lancar.
  • Tutup palka (hatch cover) apakah masih kedap air atau tidak. Cara pengetesannya ialah dengan cara menyemprot air dengan tekanan tinggi di atas tutup palka, lalu dilihat dari dalam.
  • Baik pemeriksaan maupun checking palka dijurnalkan. Seperti kita ketahui bahwa menurut UU, Tugas dan Kewajiban si-pembawa barang (Carrier) ialah:

–       membuat kapal layak laut, artinya kapal harus diawaki cukup, diberi perlengkapan yang cukup serta makanan yang cukup.

–       menyusun muatan dengan baik.

–       memuat ruang muat yang cocok dan aman untuk dimuati.

bertanggungjawab atas keutuhan serta keamanan barang sejak dimuat sampai saat pembongkaran. Sehubungan dengan tugas dan kewajiban

–       tersebut di atas, maka seyogyanya memuat itu harus baik. Ini mengandung pengertian:

–       harus memenuhi persyaratan prinsip-prinsip pemuatan. Harus memenuhi persyaratan penggolongan muatan menurut sifat dan jenisnya, sehingga dapat dipastikan apakah jenis barang yang dimuat itu bisa dimuat di palka yang sama atau dipisahkan.

–       memenuhi persyaratan keseimbangan kapal.

–       pemisahan muatan yang berat dan ringan sesuai faktor pemuatan (Stowage Factor).

–       pengambilan tindakan keamanan terhadap barang sejak barang tersebut dikapalkan (dunnage, securing & lashing, ventilation) dll.

–       hal-hal lain seperti yang tercakup di dalam komplikasi muatan.

–       kelayakan laut kapal, sarat, GM positip dan baik, dll.

Pada waktu pemuatan :

  • Pada waktu pemuatan serta peralatan muat bongkar lainnya harus dalam keadaan baik, serta siap dan dalam kedudukan yang semestinya.
  • Berat barang yang diangkat tidak melebihi SWL dp. peralatan tersebut.
  • Buruh-buruh, winch controller dan tenderman harus benar-benar mengerti akan fungsinya.
  • Taatilah petunjuk yang tertera pada muatan itu sendiri seperti :

–       “sling here”                              :  pasang sling disini

–       “this side up”                           :  sisi ini ke atas (jangan dibalik)

–       “use no hook”                         :  jangan pakai ganco

–       “handle with care”                  :  hati-hati, pelan-pelan.

  • Bila terjadi kerusakan muatan sebelum muatan tersebut dikapalkan, sebaiknya ditolak. Kalau toh diterima, mualim I harus membuatkan “Cargo Exeption” yaitu sebuah berita acara yang menyatakan bahwa barang tersebut diterima di kapal sudah dalam keadaan rusak. Kekurangan atau kehilangan isi, di luar tanggungjawab pihak kapal. Di dalam cargo exeption disebutkan :

–       jumlah peti yang rusak

–       merek barang

–       keadaan bungkus dan isinya

–       kehilangan/kekurangan isinya di luar tanggungjawab kapal.

–       Ditandatangani oleh Mualim I dan stevedore.

Muatan yang rusak tersebut sebelum dimuat di dalam palka diperiksa terlebih dahulu, lalu kerusakan bungkusnya dibetulkan baru dipadatkan. Pemeriksaan juga disaksikan oleh stevedore. Sesuai dengan tugas dan tanggungjawab pihak karier, maka selama dalam perjalanan pun muatan-muatan yang dikapal masih menjadi tanggungjawab Nakhoda. Oleh karena itu selama dalam perjalanan dijaga agar muatan tetap baik dan tidak rusak. Pengawasan disesuaikan dengan sifat muatan itu sendiri. Ada sebagian muatan memerlukan perhatian khsus, ada yang memakai ventilasi, ada yang tidak. Bila terjadi kerusakan muatan setelah muatan itu dikapal

maka nackhoda dapat membuat “Cargo Damage Report” yaitu berita acara kerusakan muatan kapal. Di dalam cargo damage report disebutkan :

–       barang-barang yang rusak

–       sebab kerusakan

–       tindakan preventip yang telah diambil.

Kalau kerusakan muatan itu disebabkan karena suatu keadaan di luar batas kemampuan kapal, Nakhoda dapat membuat “Note Of Sea Protest ”.

 

Desember 15, 2010 Posted by | ship handling | | 3 Komentar

Gas Tanker Handling & Stowage

Gas – gas yang dicairkan yang diangkut menggunakan kapal laut dapat dibagi atas :
1. Liquid Petroleum Gas ( LPG )
2. Liquid Natural Gas ( LNG )
A. L P G ( Liquid Petoleum Gas ) :
Cairan gas ini merupakan campuran dari unsur – unsur petroleum hydrocarbon, yang terdiri semata – mata atas Prophane dan Buthane. Namun gas – gas kimia hasil ikutan dari industri petroleum,
seperti Ammonia Hidroksida ( NH ), Vinyl Chloride Monomen ( VCM ), Ethylene dan lain – lain kadang – kadang juga diangkut dengan kapal laut.
Gas – gas tersebut diatas diangkut dengan kapal laut dalam bentuk cairan. Untuk mencairkannya dapat dilakukan dengan salah satu cara berikut :
1. Dibawah tekanan pada temperatur Ambient ( sekitarnya ).
2. Didinginkan penuh ( i. a. pada titik didihnya ) pada suhu antara ( – ) 30° C dan ( – ) 48° C, kecuali Ethylene yang mempunyai titik didih sekitar ( – ) 104 ° C (kemudian diturunkan suhunya).
3. kombinasi dari keduanya ( yaitu ditekan dan diturunkan suhunya ) (semi refrigrated )
Untuk pemuatannya, Petroleum gas dicairkan dengan cara ( umumnya ) diturunkan suhunya didarat sesuai dengan suhu yang dikehendaki. Kapal – kapal LPG dapat menurunkan sendiri atau mempertahankan suhu sehingga ( – ) 50° C . Gas – gas yang terjadi selama operasi ini (dan selama pelayaran dapat dicairkan kembali oleh system pencairan sendiri di kapal.
Suhu yang rendah harus dipertahankan selama proses pemuatan dan pengangkutan.
Nama                                             Titik didih                                 B.J. Gas Cair
Propane                                          – 42,3 C                                       0,583
Butane                                            – 0,5  C                                       0,602
Carrying Weight : Summer 45° C & Winter 32° C ………………………..Max 97 % of loading capacity
1. Hal – hal yang harus diperhatikan sebelum muat :
– Bila ada gas LPG mendekati Lover Exploxive Limit ( dalam vol % : 2,2 % – 9,5 % ) berikan ventilasi dengan CO2.
– Berisi sekeliling tangki, Compressor, LPG pump.
– Pasang bounding wire sebelum menghubungkan selang.
– Tutup pintu – pintu, jendela – jendela dari kamar – kamar di deck.
– Jangan ada pekerjaan yang menimbulkan panas.
– Matikan power supply yang non – anti explosive electric current.
– Jalankan G.S. Pump.
– Siapkan slang – slang kebakaran dan portable extinguishers.
– Periksa Emergency Shut Off Valves.
– Periksa Safety Valve dari tangki
– Periksa Pressure Gauge, Thermometer
– Periksa earthing antara tangki dan selang ( Pipe line )
2. Hal – hal yang harus diperhatikan selama muat :
– Muat jangan lebih dari 97 % dari Loading Capacity dengan suhu harus dibawah 45° C.
– Radio station kapal jangan digunakan.
– Periksa kemungkinan kebocoran
– Jangan sampai cerobong kapal mengeluarkan api.
3. Larangan memuat pada keadaan sebagai berikut :
– Electric Storm ( Badai Petir )
– Disekitar ada kapal yang sedang akan merapat atau melepaskan diri dari dermaga.
– Disekitar ada kebakaran
– Bila keadaansuhu demikian rupa, sehingga permukaan LPG didalam tangki tidak bisa dibaca.
4. P e m u a t a n :
– Dilakukan dengan atau kompressor dari darat.
Hubungan Vapour Line dan Liquid Line darat dengan Vapour Line dan Liquid Line dari kapal.
– LPG Pump dan Compressor kapal jangan digunakan.
– Liquid LPG masuk kapal melalui Liquid Line dan Vapour yang terdesak dari tangki kembali kedarat melalui Vapour line.
– Selesai muat tutup semua Valve. Emergency Shut – Off Valves.
– Bersihkan dengan ventilasi semua alat – alat, jangan sampai masih ada gas LPG yang tertinggal.
5. Pembongkaran :
– Dilakukan dengan kompressi dari kapal; juga dengan LPG pump kapal.
– Pressurised Vapour yang dihasilkan oleh kompressor yang diambil dari darat atau dari tangki yang belum dibongkar, dikompresikan ke tangki yang akan dibongkar melalui Vapour – Line. Liquid LPG mengalir melalui Liquid Line kedarat.
– Bila memakai LPG Pump, Liquid akan mengalir dulu ke pompa dan kemudian di booster ke darat.
– Selesai membongkar, tutup semua valves, Emergency Shunt Off Valve.
– Sebelum Bounding Wire Off, lepas dulu hose.
– Bersihkan dengan ventilasi alat – alat yang digunakan, jangan sampai ada LPG gas yang tertinggi.
6. Yang harus dicatat selama memuat / membongkar :
– Waktu mulai memuat / membongkar
– Waktu menghubungkan / melepaskan hose.
– Saturated Vapour LPG sebelum memuat / membongkar
– Suhu udara
– Waktu start pompa / kompressor
– Suhu dengan Vapour pressure dalam tangki.
– Tekanan hisap dengan tekanan Delivery dan Capasitas pompa.
– Waktu selesai muat / bongkar.
7. Yang harus diperhatikan selama Pelayaran :
– Suhu selalu dibawa 45 C
– Tekanan Vapour selalu dibawah 17,6 kg/cm G.
– Selalu check dengan gas detector adanya kebocoran – kebocoran.
– Jangan ada perubahan – perubahan keadaan seperti setelah muat ( vaives dan lain – lain ).
– Adanya api dari cerobong.
Membersihkan tangki LPG :
– Masukkan gas N 2 keadaan tangki melalui liguid – pine.
– Hisap keluar dengan kompressor gas N 2 yang telah bercampur dengan LPG.
– Buang campuran gas N 2 dengan LPG melalui pipa ditiang.
– Bila LPG < 2 %, boleh bercampur dengan udara.
– Buka lubang tangki dan periksa 0 2 sebelum orang masuk.
– Jangan dekatkan LPG dan Vapour pada benda – benda yang panas ( bahaya kebakaran ).
B.   L. N. G ( Liquid Natural Gas ) :
Gas cair ini, utamanya Ethane dan Methane, tidak dapat dapat dicairkan hanya dengan tekanan saja. Karena itu diangkut pada suhu yang amat rendah dibawah titik nol . Ethane ( – ) 104 Djt C dan Methane ( – ) 165 Djt C, dan dibawah tekanan.
Nama                                         Titik didih                                      B.J. Gas Cair
Methane                                        – 161,5 C                                              0,474
Ethane                                           – 104                                                     0,547
Selanjutnya cara pemuatan dan lain – lain sama dengan LPG ( Bedanya hanya pada proses pencairannya )

September 22, 2009 Posted by | ship handling | 3 Komentar

Cargo Handling Equipment & Maintenance

Peralatan Bongkar-Muat :

Peralatan bongkar-muat muatan yang biasa digunakan meliputi antara lain :

Slings :
terbuat dari tali serabut 24 mm-36 mm yang dipotong dan ujungnya diikatkan pada sebuah sambungan pendek

Snotters :
bentuknya hampir mirip tali atau kawat yang panjangnya 4 – 8 meter. Memiliki simpul untuk sambungan pada tiap-tiap ujungnya. Barang atau muatan yang akan diangkat, diletakkan di bagian tengahnya, lalu salah satu ujung tali di masukkan ke dalam simpul pada ujung yang satu dan di kaitkan pada alat derek.
Nets :
atau jaring digunakan untuk mengangkut barang-barang atau paket-paket kecil, seperti tas, dan sebagainya.
Strong Wooden Trays :
sejenis nampan yang digunakan untuk mengangkat sejumlah barang ukuran kecil sepeti kaleng-kaleng cat atau minyak, peti-peti yang berisi botol atau kaleng dan paket-paket lain yang bisa diangkat dengan mudah. Nampan ini dibuat untuk mengangkut barang dengan beban sampai 1½ ton dan diangkat dengan 4 tali.

The Bridle :
terbuat dari 4 tali kawat atau serabut yang sama panjangnya. Pada salah satu ujung tali disambungkan dengan sebuah cincin besi, ujung lainnya pada sebuah mata kait dengan satu kait untuk masing-masing mata kunci (eyebolts) pada sudut nampan strong wooden tray. Kemudian cincin tadi dikaitkan pada mesin kerek untuk mengangkat barang.

Can Hooks :
digunakan untuk mengangkat tong-tong kecil yang tidak berisi cairan (sesuai peraturan). Tali yang digunakan can hook itu bisa tali ataupun rantai. Kaitan can hook itu mengangkat dari bagian bawah tong-tong tersebut.

Chair Slings :
tali yang memiliki sebuah kait pada salah satu ujungnya dan sebuah mata rantai besar pada ujung satunya. Tali ini digunakan untuk mengikat barang-barang yang berat dan kasar, seperti balok-balok besi, lempeng-lempeng besi dan barang-barang agrikultural. Rantai-rantai tersebut diikatkan sekali pada barang yang akan diangkat atau jika perlu dua kali dan bagian yang satunya diikatkan di sekeliling rantai. Kemudian mesin kerek dikaitkan pada sebuah mata rantai besar untuk mengangkat barang.

Spreaders :
merupakan alat yang terdiri dari kawat-kawat yang bisa digunakan untuk mengangkat barang-barang atau muatan yang sulit diangkat. Fungsi spreader dengan sejumlah kaitan yang terpasang pada adalah untuk mengangkat muatan atau barang yang beratnya berlebihan dengan mudah dan cepat. Spreader kontainer misalnya dirancang khusus dengan simpul-simpul mati untuk menahan kontainer saat diangkut.

Bull Ropes :
merupakan tali yang digunakan saat mengangkut ketika barang-barang harus didrag dari ujung atau tepi palka ke palka yang berbentuk kotak pada lubang palka sebelum diangkat.
Salah satu ujungnya dilingkarkan paga muatan yang akan diangkat lalu diikatkan sementara ujung yang lain dilewatkan ke sekeliling mesin derek kemudian kembali ke tiang lalu diikat. Setelah dipastikan bahwa tali tersebut sudah cukup kuat, maka diturunkanlah barang tersebut ke dalam palka perlahan-lahan secara horisontal kemudian ujung talinya dilepaskan.

Fork Lift Trucks :
Dalam banyak proses perdagangan, fork lift trucks memegang peranan penting sebagai peralatan bongkar muat barang atau muatan. Beberapa kapal membawa sejumlah truk pengangkut sementara yang lainnya mengandalkan buruh pelabuhan untuk menyediakannya. Bagi sebuah kapal yang menggunakan truk-truk pengangkut seperti ini, tween decks atau palka-palka atasnya harus diperkuat dan bebas dari ganguan.. Muatan dimuat dan disimpan pada pallet atau kerangkeng yang dapat diangkut dan dibawa oleh truk tersebut. Meski barang dimuat pada kerangkeng itu membutuhkan bayak tempat dari enyimpanan barang tanpa menggunakan fasilitas truk dan kerangkeng, namn dalam hal ini, kecepatan bngkar-muat barang lebih diutamakan.
Ketika menggunakan truk-truk dengan bahan bakar bensin atau diesel, beberapa ventilasi mekanis harus digunakan karena resiko bahaya asap yang dikeluarkan oleh mesin truk. Untuk alasan inilah, maka truk-truk ini dijalankan dengan menggunakan baterai yang populer digunakan pada angkutan kapal. Beberapa kapal secara khusus dirancang untuk bongkar-muat menggunakan fork lift trukcs. Selain secara konvensional, kapal-kapal ini memiliki sisi atau pintu-pintu buritan dan elevator dalam kapal yang membawa kerangkeng-kerangkeng ke tingkat dek yang berbeda-beda.

Pemeliharaan :
Kesehatan, keselamatan pekerjaan dan legislasi yang sama semuanya itu merupakan tanggung jawab besar yang ditujukan kepada perwira-perwira kapal. Mereka bertanggung jawab memastikan bahwa semua peralatan dipelihara dan berada dalam kondisi yang baik. Peralatan-peralatan tersebut harus sudah melalui pemeriksaan yang sangat teliti, di mana runners dan topping lifts dibuka, tali atau kawat-kawat sudah diperiksa dan diminyaki, balok-balok sudah disisihkan, diminyaki, dan diperiksa, juga mesin-mesin derek yang sudah rusak atau berkarat segera diminyaki.

Peralatan-peralatan tertentu perlu dilas (diperbaharui). Proses ini meliputi proses pemanasan dan pendinginan. Proses ini merupakan proses perubahan struktur kristal logam menjadi seperti semula dan mencegahnya cepat rapuh.
Tindakan-tindakan ini merupakan syarat penanganan sekitar lubang palka, konstruksi tangga dan pencahayaan dalam palka-palka. Hal ini sangat penting untuk selalu diperiksa oleh perwira-perwira kapal sebagaimana persyaratan tersebut disusun. (lih. Hal 349-350).

Peralatan Palka :

a. Tutup Palka Kayu :
Sejak tahun 1946, Dewan Perundang-undangan Perdagangan mewajibkan memasang perlindungan Galvanis (bingkai besi) pada ujung-ujung papan palka. Ukuran papan palka :
Panjang : + 9 kaki
Tebal : + 2 ½ inch
Lebar : + 18 inci, yang terdiri dari dua papan 9 inci yang disusun secara berdampingan dan ujung-ujungnya dihubungkan dengan batang-batang besi.
Ujung-ujungnya diperkuat dengan pelat besi bergalvanis sebesar 3 inci dan handel-handelnya dibentuk dengan mencungkil lubang setengah lingkaran dan sebuah batang besi dipasang melewati tengah-tengahnya.

b. Tutup Palka Baja Kedap Air
Saat ini tutup-tutup palka banyak yang berupa tutup palka berlipat, misalnya tutup palka Mac Gegor.
Semua bagian tutup palka baja berjalan pada roda-roda dijalur roda/rel ambang palka dan berputar di ujung ambang palka dalam posisi vertikal/tegak terhadap tempat kerekannya.
Dalam posisi menutup, tutup-tutup palka dikunci dengan cleat ulir yang dipasang disekeliling ambang palka dan jika dikenangkan cleat ini akan menekan karet yang dipasang ditempat dimana tutupnya diam untuk membentuk suatu penutup (seal) kedap air.

Perawatan :
– Harus diperhatikan agar roda-roda tutup palka, tetap dilumasi dan bebas dari pasir dan ambang palka dan saluran penguras tetap bersih.
– Cleat-cleat pengunci harus tetap dilumasi dan harus diperiksa kekencangannya ketika berada di laut.

September 19, 2009 Posted by | arsip lama, ship handling | Tinggalkan komentar

RUANG RUGI ( BROKEN STOWAGE )

Broken Stowage : Prosentase ruang yang tidak terisi / terpakai oleh muatan karena bentuk / jenis muatan tersebut
Pengertian ruang hilang :

a. Ruang hilang, disebabkan karena kurang telitinya mengatur muatan, sehingga volume muatan sebesar X cuft, setelah dipadatkan menempati ruang yang lebih dari X cuft .

Misalnya :
1. Jumlah volume muatan peti = A cuft, (sebelum dipadatkan)
2. Jumlah volume ruang yang ditempati oleh muatan peti tersebut = B cuft.

Jadi Broken Stowage’nya = B – A x 100 %
                                           ——–
                                                B

b. Ruang hilang, yang disebabkan karena muatan tidak bisa lagi dipadatkan kedalam palka, karena bentuk dari muatan dan ruang palka sehingga tidak memungkinkan untuk bagi pihak kapal memadatkan palka tersebut sampai penuh .

Misalnya :
1. Volume muatan palka = A cuft, (sebelum dipadatkan)
2. Volume ruang yang ditempati oleh muatan = B cuft.

Jadi Broken Stowage’nya = B – Ax 100 %
                                           ——–                                             
                                                 B

Secara umum dapat dijadikan pedoman , bahwa Broken Stowage untuk :

1. Homogen cargo (muatan yang sejenis) : ± 10 %
2. Heterogen cargo (muatan yang tidak sejenis) : ± 25 %

September 17, 2009 Posted by | arsip lama, ship handling | 1 Komentar

PERLINDUNGAN MUATAN SELAMA PELAYARAN

Awak Kapal ( Nakhoda dan ABK ) bertanggung jawab atas keselamatan muatan (baik mengenai jumlah maupun mutunya) sejak lepas dari sling muat hingga lepas dari sling bongkar (from sling to sling). Oleh karena itu khusus selama planarian, “Pihak kapal” harus selalu mengawasi dan menjaga muatan yang dibawanya. Penjagaan tersebut ditunjukkan terhadap kerusakan muatan yang disebabkan oleh :

  • – Pengaruh muatan lain
  • – Pengaruh perubahan cuaca;
  • – Penangasan sendiri;
  • – Terkena keringat kapal;
  • – Terkena keringat muatan sendiri atau muatan lain;
  • – Akibat bocornya muatan lai
  •  – Dll.


Usaha yang pertama kali adalah dengan penggunaan dunnage (penerapan) yang tepat . Penerapan adalah bertujuan untuk melindungi muatan dari :
1. Cairan yang bebas (berhubungan langsung dengan air dari got-got, kebocoran dari muatan lain, dari lambung kapal atau dari tangki-tangki dasar berganda/double bottom).

2. Panas yang mendadak (uap air atau keringat yang terjadi pada lambung kapal, kerangka kapal dll yang mengalir ke got – got atau uap air yang mengumpul dan terdapat di side stringer, penopang sekat pemisah dll).
3. Gesekan (mencegah terjadinya gesekan-gesekan dengan muatan lain maupun dengan kulit kapal dan juga dipakai sebagai ganjal agar muatan tidak bergerak – gerak dan juga pengisi ruang yang tidak dapat lagi diisi dengan muatan).
4. Pengembunan atau kondensasi (untuk membagi tegangan yang merata atas adanya muatan – muatan berat guna mendapatkan/memberikan jalan keluar bagi udara dingin).
5. Mencegah pencurian muatan (untuk menghindari terhadap pencurian dengan membentuk penerapan yang mengelilingi muatan yang diperkirakan mudah untuk dicuri).
Dan tentunya harus memenuhi ketentuan pengontrolan atas suhu. Bahan yang digunakan untuk penerapan adalah bermacam-macam ada yang dari bambu, rotan, dll.

Penerapan (dunnage) dapat digolongkan atas 2 (dua) macam :
1. Penerapan Terlepas (loose dunnage) :
seperti papan-papan, balok-balok, kertas, tikar, terpal, sasak, plastik dll.
2. Penerapan Tetap (permanent dunnage) :

adalah penerapan yang memang dipasang secara tetap di kapal seperti :
a. Cargo batten/sweat batten , bilah keringat yaitu penerapan tetap yang dipasang di samping-samping di dalam palka.
b. Spar ceiling atau floor ceiling, penerapan tetap yang dipasang di atas tank top atau dasar palka; juga yang dipasang di loteng palka.
c. Limber boards, penerapan tetap yang dipasang di atas got-got palka.
d. Wooden sheathing, penerapan tetap yang dipasang untuk menutupi pipa-pipa atau untuk dinding yang berbatasan langsung dengan kamar mesin, sebagai penutup tunnel dll.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh penerapan (dunnage) :
1. Bahan harus kuat dan kering benar.
2. Jumlah harus mencukupi, yang rusak diganti/diperbaiki.

3. Bukan dari bahan yang hygroskopis atau dari bahan yang karena sifatnya dapat merusak muatan.
4. Penerapan harus benar-benar memenuhi fungsinya.
5. Biaya pengangkutan kecil dan harganya murah.

Jumlah penerapan di kapal sangat bergantung dari :
a) Macamnya kapal
b) Adanya double bottom atau tidak
c) Keadaan udara dan perbedaan temperatur yang dialami selama perjalanan.

Guna Penerapan :

1. Mencegah kerusakan muatan sebagai akibat :
• persentuhan langsung dengan dasar kapal atau dinding kapal.
• free moisture
• adanya kondensasi
• crushing
• chafage
• spontaneous heating

2. Pengelompokan muatan/partai-partai muatan khususnya sehubungan dengan berbagai pelabuhan tujuan.
3. Meninggikan titik berat muatan jika memuat muatan berat seperti rel-rel, plat-plat, besi-besi beton dll.
4. Penerapan dapat berfungsi sebagai ventilasi
5. Pembongkaran cepat dan sistematis
6. Mencegah terjadinya pencurian (pilferage)

PERANGINAN ( Ventilation ) :
Peranginan (ventilasi) bagi ruang muat diperlukan untuk :
1. Menghilangkan panas
2. Menghilangkan gas
3. Mensuplay udara kering untuk membantu dan mencegah kondensasi.
4. Menghilangkan noda – noda yang ada.

Tetapi tujuan utama dari peranginan adalah untuk memberikan aliran udara secara tetap kedalam seluruh ruangan palka. ( apabila kelembaban udara diluar lebih kecil ( lebih rendah ) dari pada kelembaban udara didalam ruangan palka).
Tidak semua komoditas memerlukan peranginan. Panas mungkin ditimbulkan oleh buah segar, kulit binatang yang basah, kutu-kutu dan barang-barang yang mudah terbakar dengan sendirinya.
Gas-gas yang perlu dihilangkan termasuk gas-gas yang mudah terbakar dan gas-gas yang dapat meledak seperti misalnya gas yang dihasilkan oleh batu bara ( gas tambang ), gas-gas buang dari kendaraan-kendaraan yang berada di kapal Ro – Ro;
gas CO2 dan gas-gas yang dihasilkan dari buah-buahan ataupun sayuran yang mulai membusuk.

Kondisi keringat terjadi dalam dua bentuk dasar ialah keringat kapal dan keringat muatan. Keringat kapal akan nampak sebagai butiran-butiran kecil dari uap air yang mengembun dan menempel pada badan yang terbuat dari logam dan secara khusus akan terdapat pada dinding palka bila temperaturnya berada dibawah titik embun udara disekitarnya.
Agar muatan yang diangkut tetap baik kondisinya, maka sangat diperlukan adanya peranginan yang tepat bagi palka – palkanya. Hal ini berlaku pula bagi muatan batu bara, muatan – muatan lain yang menghasilkan gas – gas yang mudah terbakar dan meledak ataupun yang punya kecederungan untuk menyala atau terbakar sendiri,
Demi keselamatan Nakhoda, ABK dan kapalnya sangatlah diperlukan sistem peranginan yang baik dan tepat guna, baik peranginan alami maupun peranginan mekanis, dengan maksud untuk memberikan aliran udara yang tetap kedalam palka – palka serta keseluruhan muatan, dimana panas, uap air, aroma, gas – gas dll yang dihasilkan oleh muatan, dikeluarkan ke udara luar dan diganti udara dengan titik embun yang sesuai dengan kondisi yang diharapkan .

Terdapat 3 (tiga) macam Sistem Peranginan :
1. Sistem Peranginan Alami
2. Sistem Peranginan dengan mengontrol temperatur terhadap aliran udara didalam ruangan yang terpisah. Ini dimaksudkan mengontrol temperatur dan kandungan CO2 yang dihasilkan oleh muatan-muatan tertentu.
3. Sistem utama dari jenis sistem peranginan ini adalah mengurangi titik embun udara didalam ruang muat dengan menghilangkan kelembaban udara sampai suatu titik dimana keringat kapal dan keringat muatan tak akan terbentuk.
Seluruh kegiatan dalam system peragihan ini hanyalah mengontrol titik embun disekitar muatan tanpa maksud untuk merubah temperatur dalam palkah.

Kapan harus dilakukan Peranginan :

  • – Berilah peranginan bila titik embun udara luar lebih kecil daripada titik embun didalam ruang muat.
  • – Batasi atau bahkan dindari peranginan bila titik embun udara luar lebih tinggi daripada temperatur udara didalam palkah.

Untuk memberi peranginan dengan kondisi akan mengakibatkan terjadinya kondensasi pada muatan sebagai akibat masuknya udara luar dengan titik embun lebih tinggi masuk keruang muat dengan titik embun yang lebih rendah.
Keadaan temperatur udara baik diluar maupun didalam ruang muat selalu diperiksa secara teratur dan dicatat dalam buku harian kapal.

September 17, 2009 Posted by | arsip lama, ship handling | 1 Komentar

MUATAN CAIR DLM BULK ( Bulk Liquid Cargo )

Bulk Liquid Cargo : muatan cair / minyak.

Ada dua jenis kapal tangki, yaitu :

1. The Crude Oil Tanker :

Ini merupakan kapal minyak yang besar. Beberapa dari kapal ini memiliki bobot mati lebih dari 400.000 ton, sedangkan bobot mati kapal umumnya 200.000 ton. Kapal ini digunakan untuk mengangkut minyak mentah dari sumber minyak atau tempat pengeboran minyak, biasanya di daerah Timur Tengah menuju ke tempat pemurniannya / pengolahannya.
Kapal minyak mentah ini memiliki sebuah sistem pipa saluran yang cukup sederhana dan kapasitas pemompaan yang tinggi untuk penghematan waktu pada saat bongkar – muat berlangsung. Biasanya sebelum pemuatan diawalii dengan pemanasan gulungan pipa .

2. The Product Tanker :
Kapal tangki ini khusus membawa minyak yang sudah diolah / dimurnikan dari tempat pemurnian minyak mentah ke tangki – tangki penyimpanan di pelabuhan – pelabuhan yang tersebar di dunia. Rata – rata bobot mati kapal ini sekitar 30.000 ton.
Produk – produk minyak pemurnian ini dibedakan atas produk hitam seperti minyak bahan bakar dan diesel, sedangkan produk putih seperti bensin, minyak tanah, gas dan minyak pelumas.
Pemisahan tingkat yang berbeda – beda merupakan paling penting saat membawa produk – produk minyak pemurnian tersebut. Kontaminasii akan membuat produk tersebut menjadi tidak berguna bahkan mungkin berbahaya. Namun sistem pipa saluran (pipe lines) yang rumit yang dipasang pada kapal tangki justru dapat mengurangi resiko akan kontaminasi muatan tersebut.

Pemuatan :

Deep Tank Liquids :
Sebelum muatan cair dimuat ke dalam tangki – tangki dalam, tangki – tangki tersebut harus diuji terlebih dahulu untuk memastikan bahwa tak akan ada kebocoran dan kerusakan pada muatan yang lain. Ujung tangki dikunci dengan kuat dan tangki diisi dengan air sampai ujung atas dari pipa – pipa tang diisi. Kemudian tangki diperiksa, khususnya di bagian ujung atau tepi tangki, lalu dipompa. Tangki dalam serta tangki dalam berganda harus diperiksa secara internal untuk mencegah kalau – kalau ada tanda – tanda kebocoran. Seorang pemeriksa akan mengeluarkan sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa tangki-tangki yang diperiksa itu sudah kuat dan boleh membawa muatan cair.

Setelah melalui pengujian yang ketat, tangki – tangki tersebut kemudian dibersihkan secara keseluruhan dan membersihkan minyak -minyak yang masih melapisi tangki dengan menggunakan air bersih dan sabun pembersih. Tapi jika tangki – tangki tersebut tidak kotor, maka cukup dibersihkan atau dicuci dengan sabun pembersih. Sabun pembersih itu dimasukkan ke dalam drum yang dihubungkan dengan pipa penyemprot. Sementara tangki yang akan dibersihkan masih panas, maka disemprotkanlah pembersih tadi ke dalam tangki kemudian digosok dengan hati – hati dan disikat. Setelah kotoran lepas dan lapisan kotoran terkelupas, semprotkanlah air bersih ke dalam tangki.

Ketika kapal akan memuat muatan getah / karet (latex) , tangki – tangki tersebut dilapisi dengan parafin atau lapisan lilin untuk mencegah kontak langsung getah dengan logam tangki. Kontak langsung dengan udara pun bisa mengurangi volume tangki, jadi digunakanlah keran untuk menyemprotkan udara dengan tekanan tertentu daripada menggunakan ventilasi.

Memuat Penuh : (Load on Top)

Minyak-minyak di ballast kotor akan mengalir ke puncak air laut. Kebanyakan air dari masing-masing tangki dapat dibongkar/buang ke laut, namun demikian puncak lapisan dipompa ke tangki pembuangan. Air kotor dari saluran pencucian dan pembersihan juga dipompa ke tangki pembuangan sebagaiman larangan untuk tidak membuang air pembuangan /kotor ke laut. Campuran dalam tangki pembuangan dibiarkan terpisah dan air bersihnya dipompa ke laut. Minyak pada puncak tangki ditahan dalam kapal dan dibuang bersamaan dengan pembongkaran muatan berikutnya.

Pada umumnya pemuatan untuk kapal jenis ini dilakukan dari darat . Biasanya tangki didarat letaknya agak tinggi, hingga perbedaan permukaan cukup menimbulkan tekanan pada pipa, tetapi pemuatan dapat juga terjadi dimana diperlukan suatu pompa muatan yang bekerja didarat, apalagi kalau muatannya dilakukan dari pengeboran lepas pantai yang tangkinya lebih rendah.

Kemudian pipa darat disambung (connect) dengan kran pipa kapal (manifold) , hal ini harus dilakukan dengan hati – hati karena mungkin ada perbedaan tegangan antara pipa kapal dengan pipa dari darat . Untuk menjaga perbedaan tegangan itu maka dipasanglah kawat tembaga diantara pipa – pipa tersebut, kemudian dipasang sakelar (sebelumnya dikenal dengan nama “bounding cable”), mengingat pada pelaksanaan pemuatan “power kerosene” dan “avigas” walau dilakukan dengan hati – hati dalam pemuatannya serta dengan kecepatan pemuatan dalam pipa yang rendah tetapi masih sering menimbulkan listrik (electric statics) .

Temperatures :
Ada instruksi pemanasan yang perlu dipatuhi, jadi sah-sah saja jika mengambil temperatur suhu muatan-muatan sebanyak dua kali sehari dan mengirimkan salinannya ke ‘cosignee’. Kelalaian dalam hal suhu muatan bisa membuat jadi kurang berkualitas. Sebaliknya ada yang susah sulit sekali dibongkar. Jika tidak dipanaskan, beberapa muatan cair akan menjadi padat dan tidak bisa lagi mengembalikan ke bentuk air lagi meskipun sudah dipanaskan.

Pada perhitungan muatan diatas kapal – kapal tanker pada umumnnya dilakukan dalam bentuk perhitungan untuk mencari “Ullage” yang dinyatakan dalam meter dan kemudian dirubah menjadi meter kubik untuk selanjutnya diubah menjadi ton.

Pihak pembuat kapal – kapal tanker telah melampirkan daftar kalibrasi untuk tiap – tiap kapal tanker dimana telah dicantumkan kapasitas tangki dalam meter kubik dan persamaannya dengan “dalam” atau “tinggi” Ullage untuk setiap 1/8 m atau 0,125 m setiap interval.

Adapun data – data yang dibutuhkan untuk merubah satuan “Meter Kubik” (cbm) menjadi satuan dalam “Ton” adalah sebagai berikut :
1. Berat jenis cair.
2. Suhu atau temperatur zat cair.
3. Koefisien muai zat cair.

Biasanya kapal – kapal tanker telah dilengkapi dengan “tanker table” yang berisikan akan semua data – data diatas ; sehingga apabila volume ( dalam meter kubik ) suatu zat cair diketahui, berat zat cair tersebut diketahui, maka berat zat cair tersebut dapat dihitung ( ton ). Volume zat cair ( meter kubik ) dapat juga diganti langsung menjadi ton dengan cara penggunaan “stowage factor”nya yang telah tercantum dalam tanker table kapal tersebut .

September 16, 2009 Posted by | arsip lama, ship handling | Tinggalkan komentar

MUATAN CURAH ( BULK CARGOES )

Pada dasarnya kapal – kapal yang dibangun untuk muatan kering dapat pula dipergunakan untuk memuat muatan curah . Akan tetapi untuk memenuhi permintaan dari perniagaan muatan curah khusus, maka dibuatlah kapal – kapal khusus untuk itu serta yang memenuhi peraturan – peraturan standar bagi ruangan muatannya yang dikenal dengan nama “bulk carrier” .

Bila muatan yang dimuat dikapal tanpa bungkus, muatan demikian itu disebut muatan curah. Biji – bijian, batubara, coke, gandum, belerang, dll adalah muatan yang umumnya dimuat secara curah. Untuk itu ruang muat harus dipersiapkan dengan baik sebelum menerima muatan curah

Baca lebih lanjut

September 16, 2009 Posted by | kapalku, ship handling | 1 Komentar

PEMISAHAN MUATAN (Segregation of Cargo)

Terkadang pelajaran yg dulu kita lupa, tapi tak ada salahnya kita mengingat ingat lagi dan lagi juga buat kebaik kita sendiri, masi ingatkan penggolongan macan macam jenis muatan , na ” aku ingin kembali
 mengingatkan istilah kata merefresh  daya ingat kita apa yg perna kita peroleh dari sang dosen saat di kampus dulu.

Pemisahan muatan berdasarkan golongan muatan merupakan salah satu cara untuk melindungi muatan.

Pemisahan yang baik haruslah dilihat dari bentuk, jenis dan sifatnya yang berbeda agar muatan tidak saling merusak satu sama lainnya, misalnya : muatan yang basah tidak boleh dicampur dengan muatan kering.

Baca lebih lanjut

September 15, 2009 Posted by | kapalku, ship handling | Tinggalkan komentar